REKREASI KE SUNGAI JANIAH

Published 2 Oktober 2010 by ilhamrefi

KISAH IKAN SAKTI DI SUNGAI JANIAH SUMBAR

Setelah menikmati pemandangan indah di Lembah Haraulalu kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata yang tak kalah pentingnya yaitu Sungai Janiah yang kata orang ada ikan saktinya. Kami membayar tiket masuk Rp2.000 untuk dewasa dan Rp1.000   untuk anak-anak.

Sungai Janiah di Nagari  Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Agam sudah lama terkenal memiliki legenda ‘ikan  sati’ atau ikan sakti.

Di lokasi yang terletak 3,5 km dari sebuah simpang sebelum Pasar    Baso di tepi jalan raya Bukittinggi-Payakumbuh ini kini dijadikan objek wisata.

Para pengunjung ke sana hanya melihat ikan-ikan yang meliuk    berenang kian-kemari. Tak ada penduduk di sana yang tahu apa jenis ikan yang    rata-rata panjangnya setengah meter hingga yang kecil 10 cm. Ikan-ikan tersebut    berwarna gelap, berbadan ramping dan panjang.

Orang-orang di sana hanya tahu ikan-ikan tersebut sakti dan    sudah ada sejak zaman dulu. Penduduk sekitar memiliki legenda bahwa nenek moyang    ikan di sana berasal dari seorang anak perempuan.

Setidaknya ada dua versi cerita legenda tentang ikan Sungai    Janiah. Versi pertama di kutip dari buku sederhana karangan Ketua    Seksi Pariwisata C. Panggulu Basa yang banyak dijual di kedai-kedai kecil di    objek wisata Sungai Janiah. Versi kedua menurut tokoh Sungai Janiah, Muchtar    Tuanku Sampono (96 tahun) .

  1. Versi Buku C. Panggulu Basa

Asal mula ikan yang ada di Sungai Janiah dari penjelmaan anak    manusia dan anak jin yang telah dikutuk oleh Tuhan, karena kedua makhluk yang    berlainan alam ini telah melanggar janji yang telah mereka sepakati.

Alkisah, penduduk Nagari Tabek Panjang di Kecamatan Baso ini    berasal dari puncak gunung Merapi. Karena persediaan air di Gunung Merapi semakin    terbatas, maka timbullah ide mencari hunian baru di bawah Gunung Merapi. Maka    diutuslah Sutan Basa untuk mencarai lokasi baru itu, Sutan Basa menemukan kawasan    yang memiliki Sungai dan air mancur yang sangat jernih.

Tapi daerah itu telah ditempati oleh bangsa jin, maka Sutan    Basa menyampaikan keinginannya kepada jin tinggal dikawasan itu bersama kelompoknya.

Maka diadakanlah kesepakatan antar kepala suku masing-masing,    bahwa boleh tinggal di daerah itu, asalkan kalau anak kemenakan dari Datuak    Rajo Nando mamak dari Sutan Basa menebang pohon agar membuang serpihan dan sisa    kayu ke arah rebahnya pohon.

Kalau kesepakatan ini dilanggar, maka keturunan dari keduanya    akan memakan kerak-kerak lumut, tempatnya tidak diudara tidak juga di daratan.

Setelah sepakat tinggallah kaum tersebut di Sungai Janiah. Suatu    waktu ada keinginan untuk membangun gedung pertemuan atau balairung untuk tempat    berkumpul. Maka ditugasilah oleh Sutan Basa sekelompok irang untuk mencari kayu    sebagai tonggak tuo. Maka pergilah mereka ke hutan.

Karena begitu senang bercampur lelah, mereka langsung menebang    pohon yang mereka nilai cocok, tapi mereka lupa akan janji yang telah disepakati    oleh kepala suku. Karena tidak mengindahkan janji tersebut maka hasil tebangan    pohon tersebut mengenai anak- anak jin. Kejadian ini membuat marah keluarga    jin, mereka menurunkan batu-batu dari Bukit Batanjua yang ada di sekitar sungai    tersebut, yang menyebabkan gempa.

Keadaan ini menyebabkan hubungan tidak harmonis antara keduanya.    Suatu waktu Datuak Rajo Nando dan istrinya pergi membersihkan ladang tebu mereka    dengan meninggalkan anak perempuan mereka berusia 8 bulan. Setelah pulang dari    ladang, tidak ditemui anak tersebut. Maka seluruh orang kampung diperintah mencari    anak hilang tersebut, sampai larut malam seluruh usaha seakan sia-sia.

Malam hari istri Datuak Rajo Nando bermimpi agar memanggil anaknya    di Sungai Janiah dengan cara membawa beras dan padi dan memanggil anaknya seperti    memanggil ayam. Esok siang dilakukanlah seperti di mimpinya. Setelah dipanggil    datanglah dua ekor ikan yang satu tampak jelas dan yang satu lagi tampak samar.    Maka ikan yang tampak jelas itu adalah anak Datuak Rajo Nando dan satunya lagi    adalah anak jin. Hal ini terjadi karena keduanya melanggar janji, sehingga termakan    sumpah.

  1. Versi Muchtar Tuanku Sampono

Muchtar Tuanku Sampono (96 tahun), tokoh masyarakat Sungai Janiah    mengatakan, ikan di Sungai Janiah ini tidak ‘sakti’. Ikan tersebut berasal dari    anak yang hilang. Malam harinya ibu anak tersebut bermimpi agar dibuat nasi    kunyit (nasi kuning) dan dipanggil anaknya di Sungai Janiah.

“Sejak dulu tidak ada yang berani memakan ikan di Sungai    Janiah ini, karena mereka enggan saja karena sepertinya memakan manusianya saja,    bahkan Belanda dan Jepang tidak berani menjamah ikan ini,”

Menurut Tuanku Sampono tidak ada yang tahu jenis dan nama ikan    tersebut. Ikan seperti ikan ‘gariang’, namun kata orang Jambi ikan ini sejenis    ikan Kalari. Seperti yang dikatakan oleh Tuanku Sampono ikan-ikan tersebut sejak    dulu tidak terlihat anak-anak ikannya.

Apakah cerita-cerita rakyat itu benar atau tidak? Yang jelas    legenda Sungai Janiah mendatangkan berkah bagi penduduk sekitar dengan banyaknya    orang berkunjung setiap hari. Mantap lah…!!!

Semoga bermanfaat.

%d blogger menyukai ini: