WISATA KE ISTANA MATAHARI TIMUR DI RIAU

Published 10 Agustus 2011 by ilhamrefi

ISTANA KERAJAAN SIAK ITU BERGELAR ISTANA MATAHARI TIMUR Beberapa waktu yang lalu saat liburan sekolah kami berkunjung ke Istana Kerajaan Siak Riau. Sebenarnya ada beberapa tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi, salah satunya adalah peninggalan sejarah Kerajaan Siak. Didalam istana Siak akan kita jumpai sejumlah peninggalan sejarah Kerajaan Siak. Barang-barang antik Kerajaan yang telah berumur ratusan tahun masih dapat kita lihat langsung dan keasliannya masih terjaga dan dirawat dengan baik. Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan. Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ. Sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak berada dibawah kekuasaan Johor. Yang memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan di angkat oleh Sultan Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut. Pada awal tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II mangkat dibunuh Magat Sri Rama, istrinya yang bernama Encik Pong pada waktu itu sedang hamil dilarikan ke Singapura, terus ke Jambi. Dalam perjalanan itu lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan di Kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Sementara itu pucuk pimpinan Kerajaan Johor diduduki oleh Datuk Bendahara tun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Dalam merebut Kerajaan Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang, dan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan seterusnya mendirikan negeri baru di pinggir Sungai Buantan (anak Sungai Siak). Demikianlah awal berdirinya kerajaan Siak di Buantan. Namun, pusat Kerajaan Siak tidak menetap di Buantan. Pusat kerajaan kemudian selalu berpindah-pindah dari kota Buantan pindah ke Mempura, pindah kemudian ke Senapelan Pekanbaru dan kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Ismail dengan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864) pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan akhirnya menetap disana sampai akhirnya masa pemerintahan Sultan Siak terakhir. Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889 ? 1908, dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889. Dan oleh bangsa Eropa menyebutnya sebagai The Sun Palace From East (Istana Matahari Timur). Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda. Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II). Sultan As-Sayyidi Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin II atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Dia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Riau di bawah Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Kasim Sani (Sani=dua). Ketika Jepang kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim menghadapi 3 pilihan: berdiri sendiri seperti dulu?, bergabung dg Belanda? atau bergabung dg Republik? Sultan sebagai sosok yg wara’ dan keramat melakukan istikharah. Saya kuat menduga Allah memberitahu SSK agar bergabung dg Republik karena kekayaan Riau yg sangat berlimpah dan berlebihan kalau sekedar dikuasai sendiri.Maka Sultan menentukan pilihan bergabung dg Rep. Mendukung NKRI. BERGABUNG, bukan menyerahkan diri Sultan menurunkan modal 13 juta Golden (3x nilai kompleks gedung Sate, Bandung), bersama2 dg para komisaris lainnya di PT. NKRI (Deli, Asahan Siak, Yogya, Solo, Kutai kartanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa-daerah-daerah yg termasuk Zelfbestuuren-berpemerintahan sediri pd jaman pendudukan Belanda di nusantara). Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden. Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968. Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu. Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin. Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999. Banyak benda-benda antic yang dapat kita jumpai didalam Istana Siak. Tengku Syed Ismail bergelar Sultan Assayidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin (Sultan Kerajaan Siak IX) memerintah 1840-1858 Sultan Assayidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin (Sultan Kerajaan Siak XII) memerintah 1915-1946 Gondang Nobat yang dibunyikan saat penobatan Sultan sejak tahun 1723 Sultan Assayidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin Manekin suasana sidang kerajaan Cermin Permaisuri Siak Bunga dan keranjang ini merupakan hasil kerajinan putrid – putri Kerajaan siak dibawah binaan istana siak 1920 Pemukul Gondang Nobat Sultan Syarif Kasim beserta Permaisuri I Tengku Agung Sultan Syarif Kasim (Sultan XII) bersama ayahanda Al Qur’an Istambul sejak tahun 1730 dari Turki Sultan Syarif Kasim (Sultan Siak ke 12) beserta Permaisuri Tengku Syarifah Fadhlun bergelar Tengku Mahratu tahun 1940 Tengku Besar pejabat sementara (regent) Sultan Siak tahun 1908 – 1915 sebelum Sultan Syarif Kasim dinobatkan menjadi Sultan Siak Sri Indrapura ke 12 tahun 1915

Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syarifuddin (Sultan XI) memerintah tahun 1889 – 1908 setelah mangkat bergelar Marhum Baginda

Meriam ini pernah dicuri pada tahun 1960 dan ditemukan pada sebuah kapal yang akan ke Singapura dan kapal yang membawanya tenggelam diteluk Salak

Meriam ini digunakan saat perang melawan penjajahan dan dibunyikan juga pada upacara resmi

Sultan Syarif Hasyim (Sultan Siak 11) bersama Sultan Kerajaan Langkat

Patung Sultan Syarif Hasyim (Sultan Siak 11) buatan Jerman terbuat dari batu pualam

Tengku Pangeran Embung (ayah mertua Sultan Syarif Kasim)

Sultan Syarif Kasim semasa hidup di Jakarta sebagai penasehat pribadi Presiden Soekarno thn 1945 – 1950 berjuang di Aceh bergabung dengan barisan rencong Aceh dipimpin oleh Ali Hasyim dan telah meyerahkan sebagian hartanya untuk membantu perang kemerdekaan melawan penjajah tahun 1945 sebesar 13 juta golden

Lapangan Terbang Simpang Tiga Pekanbaru, setelah pendaratan perdana Sultan, Permaisuri dan para pembesar Pemerintah Belanda. Di latar belakan terlihat pesawat terbang yang mendarat di Simpang Tiga

Pertemuan Sultan-Sultan Kerajaan Melayu Pesisir Timur Sumatera di Medan

Orang kaya Muhammad Djamil sekretaris pribadi Sultan Syarif Kasim Sani

Sultan Assayidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin (Sultan Kerajaan Siak XII terakhir) memerintah 1915-1946

Arsip surat – surat kerajaan

Guci antic dari Cina

Meja makan istana

Kursi singgasana kerajaan Siak Sri Indrapura berlapis Emas

Meja pertemuan Kerajaan

Tangga melingkar Istana Siak

Semoga informasi ini bermanfaat buat rekan rekan yang ingin berkunjung ke Istana Siak Riau

%d blogger menyukai ini: