DIMANO MANO URANG AWAK JUO

Published 26 November 2011 by ilhamrefi

Tidak semua Orang Padang adalah orang Minang, tapi setiap orang Minang pasti orang Padang

Bagi anda yang pernah singgah di berbagai kota di Indonesia, cobalah cari di mana orang Minang (yang secara keliru direduksi menjadi “orang Padang” saja) tidak bisa ditemukan. Setidaknya, carilah di sudut jalan mana di sebuah kota di Indonesia di mana anda tidak dapat menemukan rumah makan Padang.

Saya yakin tidak akan bisa karena sepanjang ada jalan yang bisa bisa dilalui pedati, di sana akan ada orang Minang membuka warung nasinya.

Pertanyaannya, mengapa orang Minang begitu jauh meninggalkan kampung halaman mereka?

Karatau madang di hulu
Babuah, babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di rumah baguno balun


Pantun di atas adalah sebuah “dasar hukum” bagi anak-anak muda Minangkabau untuk menguatkan niat, melangkahkan kakinya, dan berhenti untuk ragu-ragu meninggalkan ibunya di rumah. Pergi merantau. Di ambang pintu, para ibu tidak sedikitpun meragu melepas si anak bujang pergi, walau berarti mungkin hanya mereka, amai, mayai, dan uwo saja yang menghuni kampung, sambil mempersiapkan generasi berikutnya untuk bergelombang merantau.


Tinggi malanjuikan oi batang
Kijang barandam maelo tali
Tingga lanjuiklah oi kampuang
Bujang bajalan hanyo lai

Di dalam keyakinan orang Minang–mungkin juga hanya sebagai cara memperkuat tekad untuk merantau–kampung memang harus ditinggalkan jika si bujang benar-benar mencintai kampungnya. Filosofi yang sangat aneh bagi sebagian orang jika demi kecintaan pada tanah dan keluarganya, seorang laki-laki harus meninggalkan semua yang dicintainya.


Talang dipancuang ditugakan
Batang nan kaciak dipatipih
Sayang ka kampuang ditinggakan
Sayang ka adiak dipatangih 

Rantau orang Minang pada awalnya hanya berada di sekitar Sumatera Barat, bahkan sebagian besar di dalam  propinsi sendiri. Dahulu, pergi ke kota Padang sudah bisa disebut dengan merantau karena, secara adat, Padang bukan bagian dari Minangkabau. Demikian juga kota-kota lain di sekitar Sumatera Barat. Tidak aneh untuk mendengar bahasa Minangkabau didengar di tengah-tengah kota Pekanbaru, Medan, apalagi Jakarta. Belum lagi di kota-kota lain di Indonesia.

Merantau tidak pernah akan mudah. Anak laki-laki di Ranah Minang tidak memiliki hak atas tanah ulayat. Seorang kemanakan dari seorang penghulu besar dengan kekayaan warisan adat yang luas sekalipun tetap tidak memiliki hak atas tanah adat tersebut. Hak ulayat hanya atas perempuan, tidak pula untuk diperjual-belikan. Makanya, sakit-susah di rantau bukanlah rintangan yang terlalu besar untuk dilalui karena bekal yang dibawa dari kampung tidak lebih daripada apa yang bisa diberikan oleh orangtua.


Karatau disangko madang
Saenggan panangguang padi
Marantau disangko sanang
Maninggakan kampuang barisau hati
Mancarikan paruik tak barisi
Mancarikan pungguang tak basaok
Mancarikan kapalo tak batutuik

Mengapa orang Minangkabau bisa bertahan hidup di rantau?

Yang pertama yang harus didapat adalah teman dan kerabat di rantau. Untuk bisa melupakan kerinduan pada keluarga di kampung, pertama mereka harus mendapatkan keluarga baru di rantau. Di rantau mungkin telah ada sahabat yang telah terlebih dulu datang, maka merekalah yang harus ditemui dulu. Mereka sendiri mungkin ingin tahu kabar yang baru dari kampung. Namun, walau tidak ada kerabat sekalipun, orang Minang harus bisa mendapatkan teman di kampungnya yang baru.

Tapi, orang Minangkabau tidak pergi merantau hanya untuk berkumpul-kumpul di negeri orang. Mereka harus bekerja. Makanya, setelah menemukan kerabat atau keluarga baru di rantau, maka yang selanjutnya mereka cari adalah seorang induk semang, yang akan memberi mereka pekerjaan.


Kok anak pai ka pakan 
Ikan bali, balanak bali
Ikan panjang bali dahulu
Kok anak pai bajalan
Kawan cari, dunsanak cari
Induak samang cari dahulu

Orang Minangkabau dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan di mana saja ia berada. Mereka harus bisa mengambil hati lingkungan di sekitar mereka, menjadi bagian dari masyarakat barunya. Sependek pengetahuan saya, saya tidak pernah menemukan sebuah wilayah di dalam sebuah kota di Indonesia yang disebut dengan “kampung Minang” atau “kampung Padang”. Sebaliknya, di kota Padang sendiri ada kampung Jawa. Demikian juga kampung Bugis, kampung Makasar, kampung Bali, dll di kota lain di Indonesia. Orang Minang melebur ke dalam kampung baru mereka.


Kalau pandai bakain panjang
Labiah pado bakain saruang
Kalau pandai bainduak samang
Labiah pado bainduak kanduang 

Ranah Minang mungkin bisa menjadi terlalu sulit bagi seorang laki-laki Minang untuk bisa hidup dan berkembang. Alam Sumatera Barat bergunung-gunung sehingga sukar untuk mendapatkan tanah pertanian yang datar dan luas seperti di Jawa. Merantau juga bukan perjalanan sehari-dua hari, sangat mungkin seumur hidup. Oleh sebab itu, penting bagi orang Minang untuk bergiat lebih keras daripada orang lain demi mendapatkan tempatnya di hati orang rantau, lebih daripada harganya di rumah sendiri.

Orang Minangkabau merantau harus menjaga kehormatannya. Sangat dilarang anak dagang untuk membuat masalah di rantau. Tidak hanya berarti bahwa perbuatan itu akan mempermalukan dirinya sendiri, namun juga akan mempermalukan perantau lain di sana, bahkan seluruh orang Minang. Wajib bagi orang Minang juga untuk menghormati aturan setempat.


Elok-elok manyubarang
Jan sampai titian patah
Elok-elok di rantau urang
Jan sampai babuek salah 


Babelok-belok pantau baranang
Bajipang batang mangkudu
Elok-elok di rantau urang
Jan sampai mambuek malu


Rao-Rao sasudah Panti
Painan jo Taluak Kabuang
Di mano bumi dipijak
Di sinan langik dijunjuang

Upaya dan kesabaran adalah kunci keberhasilan utama orang Minangkabau. Jauh di negeri orang mengharuskan orang Minang untuk menjadi orang yang suka bekerja keras dan bersabar. Keberhasilan tidak pernah datang di awal, ia selalu datang di akhir.


Barakik-rakik ka hulu
Baranang-ranang ka tapian
Basakik-sakik dahulu
Basanang-sanang kamudian

Pelat nomor polisi daerah Sumatera Barat dimulai dengan huruf BA. Tidak ada yang benar-benar tahu apa alasan Belanda dulu memberi label BA untuk bekas wilayah Sumatera Tengah itu. Ada yang berseloroh bahwa BA adalah singkatan dari Batang Anai, nama sungai yang mengalir dari Gunung Singgalang. Namun, ada pula yang memanjangkan BA menjadi “Banyak Akal”. Orang Minang memang tidak boleh putus akal: “Indak ado kusuik nan indak ka salasai. Indak ado karuah nan indak ka janiah”; semua ada pemecahannya.


Marunduak lalu ka pakan
Manyiluduak sambia balari
Tatumbuak biduak dikelokkan
Tatumbuak kato dipikiri


Tagaliciak batang tabu
Tagulimang baro dadak
Taguliciak tampek lalu
Dialiah tampek tagak

Di dalam perantauan, mungkin ada kekeliruan yang telah dibuat. Ada keputusan yang mungkin tidak tepat, usaha mungkin merugi, modal mungkin tandas. Namun, bukan berarti bahwa ia harus menyerah. Mungkin itu adalah isyarat untuk berpindah; isyarat untuk memikirkan kembali tujuan perantauan; dan isyarat untuk menyerahkan semua kebaikan kepada Tuhan. Mereka harus percaya bahwa di ujung semua kepayahan ada hikmah yang menunggu dan Tuhan yang menentukan.


Kalek buah marapalam
Ambiak mako dimakan
Sasek di ujuang jalan
Baliak ka pangka jalan


Ka lauik jalan ka hilia
Naiak kapa pai balayia
Takuik di ujuang badia
Lari ka pangka badia


Ukia-bauikia saruang padang
Simpai dulu mangko dipaluik
Bao bapikia duduak surang
Raso ka kanai ganjua suruik


Laka jo dulang dalam lubuak
Sasah tali barendo bukan
Aka hilang paham tatumbuak
Basarah diri pada Tuhan

Namun, jangan kira bahwa orang Minang tidak akan pernah memikirkan kampung halamannya walau ia jauh di rantau. Ia tidak akan pernah lupa bahwa ada seorang ibu yang selalu menunggunya di jenjang rumah. Sebelum jendela ditutup di petang hari, sebelum pelita dipadamkan, si induk ayam tetap menanti anak-anaknya pulang. Tapi, ia tahu bahwa masa itu tidak akan pasti; tapi anak-anaknya akan pulang, walau mungkin petang telah menjadi malam dan dian telah pudur.


Singkarak kotonyo tinggi
Sumaniak mandadok pulang
Awan bararak ditangisi
Badan jauah di rantau urang


Baduri batang manau
Salaronyo babuangan juo
Satinggi-tinggi tabang bangau
Inggoknyo ka kubangan juo


Sakanyang-kanyangnyo bantiang
Rumpuiknyo dimamah juo
Sajauah-jauah malantiang
Suruiknyo ka tanah juo

Menjadi perantau bukan menjadi pengemis; mencari induk semang bukan untuk menjadi babu; melebur bukan menjadi hancur; merendah bukan untuk direndahkan; mengalah bukan untuk dikalahkan. Harga diri dan kehormatan harus tetap dijaga. Oleh karena itu, silat adalah bekal wajib seorang anak sebelum merantau. Dahulu silat diajarkan di belakang surau, oleh guru mengaji sendiri. Saya beruntung pernah mendapatkan masa yang berharga itu, walau tidak sampai putus kaji. Bahkan suatu hari, sebelum hendak merantau–setidaknya begitu yang didengar oleh kakek saya tentang rencana saya–kakek saya memerintahkan saya agar mau diajarkan satu-dua gerak silat.


Kok anak pai marantau
Kok mandi di bawah-bawah
Kok manyauak di hilia-hilia
Tapi kok dialiah urang lantak pasupandan
Ditutuik urang banda sawah
Busuangkan dado waang buyuang
Paliekan tando laki-laki
Jan takuik tanah ka sirah
Aso hilang duo tabilang
Sabalun aja bapantang mati
Namun dalam kabanaran 
Walau dipancuang lihia putuih
Satapak pun jan namuah suruik

Saya masih ingat filosofi silat yang diajarkan kakek saya kepada saya malam itu:


Kok ka kanai jadi tasebeang
Kok tasebeang jadi tailak
Lawan indak dicari, Yuang
Basuo pantang diilakkan

Orang Minang harus menghindari kerusakan yang lebih besar dan harus menjadikannya lebih kecil. Saya cukup bangga, bahwa hingga sekarang tidak pernah mendengar orang Minang yang diusir dari rantau, tidak secara besar-besaran.

Bagi kami orang Minang merantau adalah untuk hidup, untuk menjadi berarti: bagi ibu yang melepas kami dan bagi kampung kami, yang kami tinggalkan maupun tinggali.

iyokan diawak lalukan diurang

%d blogger menyukai ini: